Mengenal Batu Mulia

Showing posts with label Seni Budaya. Show all posts
Showing posts with label Seni Budaya. Show all posts
Monday, 2 February 2015

0
Jentreng Dan Tarawangsa

Tarawangsa salah satu alat musik masyarakat Sunda. Keberadaannya telah disebut-sebut dalam naskah-naskah Sunda Kuno seperti Jatiraga dan Sewa ka Darma yang ditulis pada masa Kerajaan Sunda-Pajajaran masih berdiri tegak.

Jentreng Tarawangsa kesenian Sunda
Kini, tradisi seni Tarawangsa masih hidup di beberapa daerah Jawa Barat. Walau tinggal hitungan  jari. Sebutlah Rancakalong di Sumedang, Cipatujah di Tasikmalaya, dan di daerah-daerah tertentu di Bandung dan Banten.


Tarawangsa dan Jentreng

Tarawangsa merupakan alat musik kayu yang terdiri atas dua bagian. Tangkai penampang dawai dan badan (body) berbentuk kotak. Dawainya memiliki dua senar yang dimainkan oleh lengan kiri. Sementara penggeseknya dimainkan oleh tangan kanan. Adapun senar yang satu dan paling dekat dengan pemain dimainkan dengan cara digesek. Sedangkan senar satu lagi dipetik dengan jari telunjuk. Jenis kayu yang digunakan untuk membuat Tarawangsa adalah kayu kemiri, jengkol, dadap, dan kenanga.

Tarawangsa

Tarawangsa tak berdiri sendiri. Ia merupakan ensemble yang ditemani oleh alat musik lain bernama jentreng’ Bentuknya seperti kecapi. Jentreng terbuat dari kayu dan terdiri atas tujuh dawai dan dimainkan dengan dipetik.
Sementara laras atau tangga nada yang digunakan dalam memainkan tarawangsa adalah pelog (tiap oktafnya terdiri atas lima, enam, atau tujuh nada yg jaraknya tidak sama). Disesuaikan dengan steman jentreng yang pelog (bernada da-mi-na-ti-la).


Jentreng


Asal Mula Tarawangsa

Jentreng dan Tarawangsa

 Sukar sekali melacak sejak kapan alat musik Tarawangsa lahir di Tanah Pasundan, karena ketiadaan sumber tertulis mengenai hal tersebut. Namun, kita masih diuntungkan oleh sejumlah tradisi lisan yang hidup hingga kini yang mengisahkan asal mula Tarawangsa. Salah satunya tradisi lisan masyarakat Rancakalong, Sumedang. Menurut versi lisan Rancakalong, seni Tarawangsa telah ada sejak masa Kerajaan Mataram Kuno, sekitar abad ke-8 atau ke-9 Masehi.

Dikisahkan bahwa pada saat itu di Tatar Sunda belum ada bibit padi (sawah). Syahdan, sekelompok pemain musik jalanan alias pengamen dari Tatar Sunda, membawa berbagai alat tatabeuhan seperti celempung, rengkong, dan Tarawangsa, tiba di wilayah Mataram (antara Jawa Tengah dan Yogyakarta kini). Sebuah negara dengan wilayah yang menghasilkan beras melimpah. Dari benak para pengamen ini lahir sebuah gagasan konyol namun revolusioner: mencuri benih padi.

Para pengamen pun mencoba menyembunyikan benih padi ke dalam celempung, alat musik pukul dari bambu. Namun, upaya ini gagal. Tak kehilangan akal, para pengamen ini mencoba memasukkan benih ke dalam rengkong, yakni pikulan untuk padi dari bambu (awi gombong). Akan tetapi, lagi-lagi usaha para pengamen ini gagal. Mereka terus mencari akal dan kemudian, seorang dari mereka yang bernama Eyang Sinapel atau Eyang Wisya Mangkunegara berhasil membawa benih padi dengan cara menyembunyikan di lubang tarawangsa. Usaha si eyang ini berhasil, mereka pun lalu pulang ke kampung halamannya di Rancakalong dengan membawa benih padi asal Mataram itu. Konon, sejak itu Tanah Sunda menjadi salah satu penghasil beras utama, selain Jawa.

Kisah di atas, selain mengisahkan hal ikhwal keberadaan Tarawangsa pada awal sekali, juga memberitakan bahwa masyarakat Sunda pada masa tersebut (abad ke-8 dan ke-9) belum mengenal jenis padi sawah, melainkan hanya padi huma. Dalam versi cerita rakyat ini pada masa itu masyarakat Sunda membawa padi hasil panen mereka langsung ke rumah dengan bantuan rangkong. Budaya ladang dari masyarakat Sunda pun terlihat dari alat-alat musik yang mayoritas terbuat dari bambu.

Cerita rakyat lainnya dari Sumedang yang berkisah tentang asal mula Tarawangsa, ditemukan dalam laporan penelitian Yetti Setianingsih, dkk (2006). Ringkas cerita, seorang bernama Eyang Muhari mengalami mati suri karena penyakit yang diderita.  Ketika jenazahnya hendak dimandikan oleh orang-orang Rancakalong, datanglah Eyang Salia. Untunglah Eyang Salia datang tepat waktu. Ia menyuruh orang-orang tersebut untuk mengurungkan niatnya.

Eyang Salia kemudian mengamati tubuh Eyang Muhari. Ia menerawang dengan mata batinya. Eyang Salia yakin, bahwa Eyang Muhari masih dapat hidup kembali. Setelah ditunggu dua jam, Eyang Muhari bangun. Ia begitu heran melihat banyak orang berkumpul di rumahnya.

Eyang Muhari lalu bercerita tentang apa yang dialaminya ketika mati suri. “Aku bermimpi bertemu dengan seorang tua berjenggot panjang. Orang tua tersebut menyuruhku untuk melakukan apa yang dikatakannya”. Apa yang diceritakannya tersebut merupakan cikal bakal kesenian Tarawangsa. Orang berjenggot itu memberikan sebagian tata cara melaksanakan kesenian Tarawangsa.

Cerita rakyat di atas, jelas lebih tua dari kisah sebelumnya, (para pengamen Sunda ke Mataram). Cerita dari laporan penelitian Yetti Setia Ningsih, dkk ini mengisahkan ihwal inspirasi penciptaan Tarawangsa. Namun sayang dalam kisah tersebut tidak terdapat tahun kejadian “Mati Suri”-nya Eyang Muhari.

Bukan suatu kebetulan jika wilayah - wilayah lain di Jawa Barat memiliki tradisi lisan serupa dalam versi yang belum tentu sama persis. Sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai sejarah lahirnya Tarawangsa.


Persembahan kepada Sanghyang Sri

Tarawangsa diperagakan saat digelarnya perayaan hasil panen dan diperuntukkan kepada Sanghyang Pohaci Sri, makhluk langit penguasa padi. Dalam perayaan ini, para penari yang terdiri atas sejumlah lelaki dan perempuan, turun ke gelanggang dengan diiringi ensemble Tarawangsa dan Jentreng.  Mereka menari dengan pola tak beraturan, karena memang musik Tarawangsa ini tidak menuntut tarian dengan pola tertentu. Prosesi Tarawangsa dipimpin oleh saehu atau sesepuh adat, dengan sepasang patung lelaki dan perempuan perwujudan Aki Balangantrang dan Nini Pohaci, wajib dihadirkan.

 
Alat Musik Kahyangan

Kata Tarawangsa sudah disebut-sebut dalam sejumlah naskah berbahasa dan beraksara Sunda Kuno seperti Jatiniskala (Jatiraga). Dalam naskah-naskah ini disebutkan bahwa alat Tarawangsa diperdengarkan di alam kahyangan. Hal ini dapat kita lihat dari kutipan teks Jatiniskala berikut:

Yata nira nu mangih / ning bumi kumirincing / Rari sada tatabeuhhan / ri aci bemiring kumirinycing / kumarenycang kumarenycong / rari ti nu rari aci kwaswar(r)anan / hya(ng) gending (gending) narawangsa / kaamsuh ku deneng pawana (Maka dialah yang menemukan, dunia gemerincing. Ramai suara bunyi-bunyian, dalam pusat dunia gemerincing, kumarencyang-kumarenycong, lebih ramai daripada pusat keramaian di bawah, gamelan keramat dibunyikan diiringi tarawangsa, tersebar oleh hembusan angin).

Selain Tarawangsa, ada sejumlah atal musik lain yang disebutkan oleh sejumlah naskah Sunda Kuno seperti Para Putra Rama dan Rawana, Sri Ajnyana, Bujangga Manik. Mereka adalah goong (gong) kuning, goong jawa, gending (gendang), sarunay (seruling), gangsa (gamelan perunggu, canang), caning,  karinding,  dan kacapi, di mana sebagian alat musik tersebut, terutama alat pukul (tatabeuhan), sering diperdengarkan di alam kasorgaan dan kahyangan.



Sumber Rujukan
Noorduyn, J. dan A. Teeuw. Tiga Pesona Sunda Kuna. Jakarta: Pustaka Jaya.

Yetti Setianingsih, dkk. 2006. Aspek Didaktis dalam Teks Cerita Sastra Lisan di Kabupaten Sumedang. Laporan Penelitian. Fakultas Sastra Unpad.

“Jentreng Tarawangsa: Menari untuk Dewi Padi”. Diunduh 22 Oktober 2011. Dari http://berita.liputan6.com/read/331218/jentreng-tarawangsa-menari-untuk-dewi-padi
Friday, 28 February 2014

0
Pandawa Lima

Pandawa Lima adalah Lima Satria dari Pandawa yang terdiri dari : Darmakusumah (Yudhistira), Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa. Pandawa Lima keturunan dari Pandu Dewanata dengan Kunti Nalibrata

1. Darmakusumah 

adalah anak pertama Prabu Pandu Dewanata dengan Dewi Kunti Nalibrata. Raja di Amarta, dan Astina setelah Perang Baratayuda. Ia terkenal sebagai raja yang arif bijaksana dan adil paramarta, serta sangat sabar. Memiliki senjata Jamus layang kalimahsada, Nama lain Darmakusuma adalah Yudhistira, Samiaji, Kontea, Punta Dewa dan Wijakangka.
Darma Kusumah
Karakter : bijaksana, adil dan sabar

Julukan : Yudhistira, Samiaji, Kontea, Punta Dewa dan Wijakangka

Senjata : Jamus Layang Kalimasada

2. Bima 

Bima merupakan urutan kedua dari Pandawa Lima. Nama lain Bima adalah Bratasena dan Bayushuta karena merupakan penjelmaan batara Bayu. Mempunyai perawakan yang tinggi besar, bersikap tegas dan memiliki sifat gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur, cenderung tempramental. Bima menganggap semua orang sama derajatnya, makanya dia gak pernah berkata-kata halus dengan siapa saja termasuk tidak pernah duduk dihadapan mereka. Ia gemar memasak dan gemar makan.
Bima


Julukan : 
- Bayushuta - karena merupakan penjelmaan Batara Bayu
- Werkodara - karena gemar makan
Karakter : berani, teguh, tabah, patuh dan jujur cendrung temperamen.
Senjata : Gada

3. Arjuna 

Arjuna
Arjuna adalah putra ketiga dari Pandu dan Dewi Kuntinalibrata. merupakan putra ketiga dari Pandawa Lima dan biasa disebut panengah Pandawa.

Arjuna mempunyai julukan Janaka karena terkenal mempunyai banyak istri, dan Tampan (permadi). Arjuna Senang berkelana, bertapa dan berguru mencari Ilmu.Gurunya yang terkenal adalah Resi Dorna dari padepokan Sokalima.

Karakter : cerdik, pandai, pendiam, teliti, sopan santun, berani dan suka melindungi yang lemah.

Pangilan lain Arjuna : 
- Dhananjaya (Perebut kekayaan) - karena berhasil mengumpulkan upeti saat upacara Rajasuya yang      diselenggarakan Yudistira (Darmakusumah).
- Kirti (yangbermahkota Indah) - karena ia di beri mahkota indah oleh Dewa Indra saat berada di surga
- Partha (outra Kunti) - karena ia Putra Pritha alias Kunti

Senjata : Panah 

4. Nakula

Nakula
Dalam pedalangan Jawa disebut pula dengan nama Pinten (nama tumbuh-tumbuhan yang daunnya dapat dipergunakan sebagai obat) adalah putra ke-empat Prabu Pandudewanata, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Madrim, putri Prabu Mandrapati dengan Dewi Tejawati, dari negara Mandaraka. Nakula mahir menunggang kuda dan pandai mempergunakan senjata panah dan lembing. Nakula tidak akan dapat lupa tentang segala hal yang diketahui karena ia mepunyai Aji Pranawajati pemberian Ditya Sapujagad, Senapati negara Mretani.

Ia merupakan penjelmaan Dewa kembar bernama Aswin, Sang Dewa pengobatan. Saudara kembarnya bernama Sadewa, yang lebih kecil darinya, dan merupakan penjelmaan Dewa Aswin juga. Setelah kedua orangtuanya meninggal, ia bersama adiknya diasuh oleh Kunti, istri Pandu yang lain. Nakula pandai memainkan senjata pedang. Dropadi berkata bahwa Nakula merupakan pria yang paling tampan di dunia dan merupakan seorang ksatria berpedang yang tangguh. Ia giat bekerja dan senang melayani kakak-kakaknya. Dalam masa pengasingan di hutan, Nakula dan tiga Pandawa yang lainnya sempat meninggal karena minum racun, namun ia hidup kembali atas permohonan Yudistira. Dalam penyamaran di Kerajaan Matsya yang dipimpin oleh Raja Wirata, ia berperan sebagai pengasuh kuda.

Karakter : Jujur, setia, taat, belas kasih, pandai menyimpan rahasia.
Senjata : panah dan tombak


5. Sadewa

sadewa
Dalam pedalangan Jawa disebut pula dengan nama Tangsen (buah dari tumbuh-tumbuhan yang daunnya dapat dipergunakan dan dipakai untuk obat) adalah putra ke-lima atau bungsu Prabu Pandudewanata, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Madrim, putri Prabu Mandrapati dengan Dewi Tejawati dari negara Mandaraka. Ia lahir kembar bersama kakanya, Nakula. Sadewa mempunyai watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan dapat menyimpan rahasia.

Ia merupakan penjelmaan Dewa kembar bernama Aswin, Sang Dewa pengobatan. Saudara kembarnya bernama Nakula, yang lebih besar darinya, dan merupakan penjelmaan Dewa Aswin juga. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia bersama kakaknya diasuh oleh Kunti, istri Pandu yang lain. Sadewa adalah orang yang sangat rajin dan bijaksana. Sadewa juga merupakan seseorang yang ahli dalam ilmu astronomi. Yudistira pernah berkata bahwa Sadewa merupakan pria yang bijaksana, setara dengan Brihaspati, guru para Dewa. Ia giat bekerja dan senang melayani kakak-kakaknya. Dalam penyamaran di Kerajaan Matsya yang dipimpin oleh Raja Wirata, ia berperan sebagai pengembala sapi.

Karakter :  Rajin, Bijaksana

sumber : diolah dari berbagai sumber

2
KARAKTER TOKOH WAYANG GOLEK (DARMAKUSUMAH)

Darmakusumah


Darmakusumah adalah anak pertama Pandu Dewanata dengan Dewi Kunti Nalibrata. Raja di Amarta, dan Astina setelah Baratayuda. Ia terkenal sebagai raja yang arif bijaksana dan adil paramarta, serta sangat sabar.

Dalam kisah Pandawa Dadu, Darmakusumah kalah main dadu, yang mengakibatkan para Pandawa beserta Kunti harus menjalani hukuman (berkelana di hutan selama 12 tahun). Dalam lakon Babad Alas Amer, Darmakusumah dirasuki raja Alas Amer yang bernama Prabu Yudistira, maka sejak itu ia pun disebut Yudistira. Dalam Baratayuda ia dipaksa oleh Kresna menghadapi Adipati Salya yang menjadi Senapati Kurawa dan mengalahkannya.

Dalam kisah Pandawa Seda, Darmakusumah bisa moksha beserta raganya yang ditemani oleh seekor anjing sebagai penjelmaan Batara Darma. Dari isterinya Drupadi (puteri raja Drupada dari negara Campaladirja), mempunyai anak bernama Pancawala. Ia mempunyai jimat jamus layang kalimasada yang sangat sakti. Nama lain dari Darmakusumah a.l Samiaji, Kontea, Puntadewa, Yudistira, Wijakangka. Dalam wayang Darmakusumah terkenal tidak suka perang, tidak pernah marah, tidak pernah berdusta.

sumber : wayanggolek.info
                Timsan dan wayang.blogspot.com
Thursday, 27 February 2014

0
Sisingaan

Sisingaan adalah kesenian yang terdiri dari boneka singa yang di pikul oleh empat orang sambil di iringi musik.
Sisingaan
Monday, 29 July 2013

0
KARAKTER TOKOH WAYANG GOLEK (SEMAR)

MAYA adalah sebuah cahaya hitam. Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan segala sesuatu.

Yang ada itu sesungguhnya tidak ada.

Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.

Yang bukan dikira iya.

Yang wanter (bersemangat) hatinya, hilang kewanterane (semangatnya), sebab takut kalau keliru.

Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar, atau tidak jelas.


LURAH SEMAR
LURAH SEMAR

Di dalam cerita pewayangan, Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa, ia diberi anugerah mustika manik astagina, yang mempunyai 8 daya, yaitu:

tidak pernah lapar

tidak pernah mengantuk

tidak pernah jatuh cinta

tidak pernah bersedih

tidak pernah merasa capek

tidak pernah menderita sakit

tidak pernah kepanasan

tidak pernah kedinginan

kedelapan daya tersebut diikat pada rambut yang ada di ubun-ubun atau kuncung. Semar atau Ismaya, diberi beberapa gelar yaitu; Batara Semar, Batara Ismaya, Batara Iswara, Batara Samara, Sanghyang Jagad Wungku, Sanghyang Jatiwasesa, Sanghyang Suryakanta. Ia diperintahkan untuk menguasai alam Sunyaruri, atau alam kosong, tidak diperkenankan menguasi manusia di alam dunia.

Di alam Sunyaruri, Batara Semar dijodohkan dengan Dewi Sanggani putri dari Sanghyang Hening. Dari hasil perkawinan mereka, lahirlah sepuluh anak, yaitu: Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan, Batara Siwah, Batara Wrahaspati, Batara Yamadipati, Batara Surya, Batara Candra, Batara Kwera, Batara Tamburu, Batara Kamajaya dan Dewi Sarmanasiti. Anak sulung yang bernama Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan mempunyai anak cebol, ipel-ipel dan berkulit hitam. Anak tersebut diberi nama Semarasanta dan diperintahkan turun di dunia, tinggal di padepokan Pujangkara. Semarasanta ditugaskan mengabdi kepada Resi Kanumanasa di Pertapaan Saptaarga.

Dikisahkan Munculnya Semarasanta di Pertapaan Saptaarga, diawali ketika Semarasanta dikejar oleh dua harimau, ia lari sampai ke Saptaarga dan ditolong oleh Resi Kanumanasa. Ke dua Harimau tersebut diruwat oleh Sang Resi dan ke duanya berubah menjadi bidadari yang cantik jelita. Yang tua bernama Dewi Kanestren dan yang muda bernama Dewi Retnawati. Dewi Kanestren diperistri oleh Semarasanta dan Dewi Retnawati menjadi istri Resi Kanumanasa. Mulai saat itu Semarasanta mengabdi di Saptaarga dan diberi sebutan Janggan Semarsanta.

Sebagai Pamong atau abdi, Janggan Semarasanta sangat setia kepada Bendara (tuan)nya. Ia selalu menganjurkan untuk menjalani laku prihatin dengan berpantang, berdoa, mengurangi tidur dan bertapa, agar mencapai kemuliaan. Banyak saran dan petuah hidup yang mengarah pada keutamaan dibisikan oleh tokoh ini. Sehingga hanya para Resi, Pendeta atau pun Ksatria yang kuat menjalani laku prihatin, mempunyai semangat pantang menyerah, rendah hati dan berperilaku mulia, yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta. Dapat dikatakan bahwa Janggan Semarasanta merupakan rahmat yang tersembunyi. Siapa pun juga yang diikutinya, hidupnya akan mencapai puncak kesuksesan yang membawa kebahagiaqan abadi lahir batin. Dalam catatan kisah pewayangan, ada tujuh orang yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta, yaitu; Resi Manumanasa sampai enam keturunannya, Sakri, Sekutrem, Palasara, Abiyasa, Pandudewanata dan sampai Arjuna.

Jika sedang marah kepada para Dewa, Janggan Semarasanta katitisan oleh eyangnya yaitu Batara Semar. Jika dilihat secara fisik, Semarasanta adalah seorang manusia cebol jelek dan hitam, namun sesungguhnya yang ada dibalik itu ia adalah pribadi dewa yang bernama Batara Semar atau Batara Ismaya.

Karena Batara Semar tidak diperbolehkan menguasai langsung alam dunia, maka ia memakai wadag Janggan Semarasanta sebagai media manitis (tinggal dan menyatu), sehingga akhirnya nama Semarasanta jarang disebut, ia lebih dikenal dengan nama Semar.

Seperti telah ditulis di atas, Semar atau Ismaya adalah penggambaran sesuatau yang tidak jelas tersamar.

Yang ada itu adalah Semarasanta, tetapi sesungguhnya Semarasanta tidak ada.

Yang sesungguhnya ada adalah Batara Semar, namun ia bukan Batara Semar, ia adalah manusia berbadan cebol,berkulit hitam yang bernama Semarasanta.

Memang benar, ia adalah Semarasanta, tetapi yang diperbuat bukan semata-mata perbuatan Semarasanta.

Jika sangat yakin bahwa ia Semarasanta, tiba-tiba berubah keyakinan bahwa ia adalah Batara Semar, dan akhirnya tidak yakin, karena takut keliru. Itulah sesuatu yang belum jelas, masih diSAMARkan, yang digambarkan pada seorang tokoh Semar.

SEMAR adalah sebuah misteri, rahasia Sang Pencipta. Rahasia tersebut akan disembunyikan kepada orang-orang yang egois, tamak, iri dengki, congkak dan tinggi hati, namun dibuka bagi orang-orang yang sabar, tulus, luhur budi dan rendah hati. Dan orang yang di anugerahi Sang Rahasia, atau SEMAR, hidupnya akan berhasil ke puncak kebahagiaan dan kemuliaan nan abadi.

(herjaka)
sumber :


Saturday, 25 August 2012

0
7 Teknologi Tinggi Indonesia Zaman Dulu

Nenek moyang Indonesia ternyata sudah memiliki teknologi yang tinggi, sayangnya kita sebagai generasi penerus banyak yang tidak menyadari hal ini. Ironisnya orang luar bahkan lebih tahu banyak. Kali ini Wajah Indonesiaku akan mengupas 7 Teknologi Tinggi Indonesia Zaman dulu. selamat membaca....


1. Borobudur : Merupakan teknologi tinggi di bidang Arsitektur

Teknologi Arsitektur
Borobudur dibangun sekitar 824 masehi pada zaman kerajaan Mataram dimana yang menjadi Raja adalah Samaratungga dari dinasti syaelendra.

Bayangkan dengan teknologi alat berat yang bisa dibilang belum canggih seperti sekarang nenek moyang dapat membangun candi dari tumpukan bebatuan yang tidak memerlukan perekat (semen) ataupun paku bumi untuk menopang pondasinya. Bahkan mereka sudah bisa merancang agar batu yang satu dengan yang lain bisa saling mengikat meskipun tanpa semen ataupun besi, sungguh luar biasa. Bahkan dengan kecanggihan teknologi sekarang sulit untuk menandingi kemegahan candi Borobudur yang mengadopsi konsep Fraktal. Fraktal adalah bentuk geometris yang memiliki elemen-elemen yang mirip bentuknya secara keseluruhan.

Borobudur sendiri merupakan stupa raksasa yang terdiri dari susunan stupa stupa kecil. sungguh luar biasa.

2. Kapal Jung Jawa : Merupakan Teknologi Tinggi Perkapalan (Maritim)

Teknologi tinggi di bidang Maritim
Jauh sebelum Cheng Ho dan Colombus nenek moyang Nusantara sudah mengarungi samudra sepertiga bola dunia. Meskipun orang Cina sejak 500 tahun sebelum Masehi sudah mengembangkan beragam jenis kapal dengan berbagai ukuran hingga abad VII, namun sangan kecil peranannya dalam pelayaran laut lepas.

Dalam catatan perjalanan spiritual I-Tsing (671-695 M), dari Kanton menuju Nalanda di India selatan, disebutkan bahwa ia menggunakan kapal Sriwijaya.Negeri dimana saat itu menguasai lalulintas laut selatan.

Pelaut Portugis yang menjelajahi samudera pada pertengahan abad 16 bernama Diego De Couto dalam bukunya yang berjudul Da Asia terbit tahun 1645 menyebutkan bahwa orang Jawa telah lebih dulu sampai ke Tanjung Harapan, Afrika dan Madagaskar.

Pada awal abad 16 ia mendapati penduduk Tanjung Harapan berkulit cokelat dan mengaku dari Jawa.kata Couto seperti dikutip Anthony Reid dalam bukunya Sejarah Modern Awal Asia Tenggara.

Berdasarkan Relief kapal di candi Borobudur nenek moyang Indonesia telah menguasai teknik pembuatan kapal. Kapal Borobudur memainkan peranan penting selama ratusan tahun sebelum abad 13.

Awal abad 8 kapal Borobudur muali degeser oleh kapal Jung Jawa, dengan menggunakan tiga atau empat layar sebagai Jung. Kata Jung pertama kali dipergunakan dalam perjalanan biksu Odrico Jurnal, jonhan De Marignolli dan Ibn Battuta yang berlayar ke Nusantara awal abad ke 14.

Mereka memuji kehebatan kapal raksasa Jawa yang menguasai laut Asia Tenggara. Pembuatan Jung seluruh badan kapal tanpa menggunakan paku. Luar biasa.!!

Disebutkan Jung Nusantara memiliki empat tiang layar, terdiri dari empat lapis papan yang mampu menahan gempuran meriam Portugis. Bobotnya berkisar 600 ton melebihi bobot kapal perang Portugis. Bobot kapal terberat dari kerajaan Demak hingga mencapai 1000 ton, yang digunakan untuk mengangkut pasukan Nusantara dalam rangka menyerang armada Portugis di Malaka pada tahun 1513.
bersambung...... sabar ya masih banyak hal yang bisa di banggakan dari nenek moyang kita ..


3. Keris : Bukti Teknologi Pengolahan Logam

Keris


Teknologi logam sudah lama berkembang sejak awal masehi di Nusantara. para mpu sudah mengenal berbagai kualitas kekerasan logam. Keris memiliki penempaan besi yang luar biasa untuk ukuran masyarakat masa itu.

Keris dibuat dengan penempaan bukan dicor. Teknik penempaan disertai pelipatan mempunyai berguna untuk mencari kemurnian besi, dimana saat itu materi besi masih komposit dengan materi-materi lainya.

Besi yang mulanya berupa lembaran dilipat-lipat hingga ribuan kali lipatan. Proses pembuatan Keris sangat unik, menarik dan sulit. Teknik ini disebut teknik tempa Tosan Aji (Tosan = besi, Aji Berharga).

Pemilihan batu meteorit yang mengandung unsur titanium,sebagai bahan Keris, merupakan penemuan nenek moyang Indonesia yang mengagumkan.Titanium dikenal sebagai bahan untuk membuat Keris yang terbaik karena sifatnya yang ringan namun sangat kuat.

Kesulitan membuat Keris dari Titanium adalah titik lebur yang tinggi hingga mencapai 6000 derajat celcius. Titanium ternyata memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan logam lain. keunggulanya antara lain, keras, kuat, ringan, tahan panas dan tahan karat.

Unsur logam titanium baru ditemukan sebagai unsur murni  sekitar tahun 1940. Zaman modern sekarang ini Titanium digunakan untuk bahan Pelapis hidung pesawat luar angkasa, ujung Rocket dan peluru kendali antar benua.

4. Benteng Keraton Buton : Arsitektur untuk benteng pertahanan.

Benteng Keraton Buton


Benteng Keraton Buton terletak di Buton, Sulawesi Tenggara di bukit seluas 20.7 hektar. Benteng ini bekas ibukota Kesultanan Buton yang memiliki Arsitektur yang cukup unik yang terbuat dari batu kapur.

Benteng ini berbentuk lingkaran yang memiliki keliling lingkaran 2.740 meter.Memiliki 12 pintu gerbang dan 16 pos jaga yang dalam bahasa setempat disebut Balubara. Tiap pintu gerbang dan Balura di kawal 4-6 meriam. Jumlah Meriam seluruhnya 52 buah.

Letaknya yang tinggi karena diatas bukit serta lereng bukit yang terjang merupakan pertahanan terbaik di Zamanya. ini membuktikan kehebatan Arsitek Nusantara saat itu.


0
CANGGIHNYA TEKNOLOGI INDONESIA DULU

Dahulu nenek moyang kita sudah banyak menemukan penemuan yang terbilang canggih. Tetapi sayang banyak orang Indonesia yang tidak menyadari. kali ini Wajah indonesiaku akan mengupas tentang teknologi Indonesia Zaman dulu. Semoga bangsa lebih percaya diri dan lebih mencintai karya negri sendiri sehingga akan melahirkan karya-karya baru. selamat membaca....


1. Borobudur - teknologi Arsitektur

Borobudur bukti arsitektur yang tinggi

1. Borobudur : Teknologi Arsitektur yang tinggi

Borobudur adalah candi yang diperkirakan mulai dibangun sekitar 824 M oleh Raja Mataram bernama Samaratungga dari wangsa Syailendra. Borobudur merupakan bangunan candi yang sangat megah.

Tidak dapat dibayangkan bagaimana nenek moyang kita membangun Borobudur yang demikian berat dapat berdiri kokoh dengan tanpa perlu memakukan ratusan paku bumi untuk mengokohkan pondasinya, tak terbayangkan pula bagaimana batu-batu yang membentuk Borobudur itu dibentuk dan diangkut ke area pembangunan di atas bukit.

Bahkan dengan kecanggihan yang ada pada masa kini, sulit membangun sebuah candi yang mampu menyamai candi Borobudur. Borobudur juga mengadopsi Konsep Fraktal.

Fraktal adalah bentuk geometris yang memiliki elemen-elemen yang mirip dengan bentuknya secara keseluruhan.

Candi Borobudur sendiri adalah stupa raksasa yang di dalamnya terdiri dari stupa-stupa lain yang lebih kecil. Terus hingga ketidakberhinggaan. Sungguh mengagumkan nenek moyang kita sudah memiliki pengetahuan seperti itu. Bangunan Candi Borobudur benar-benar bangunan yang luar biasa.


2. Kapal Jung Jawa - Teknologi kapal raksasa


Teknologi di bidang maritim
Jauh sebelum Cheng Ho dan Columbus, para penjelajah laut Nusantara sudah melintasi sepertiga bola dunia. Meskipun sejak 500 tahun sebelum Masehi orang-orang China sudah mengembangkan beragam jenis kapal dalam berbagai ukuran, hingga abad VII kecil sekali peran kapal China dalam pelayaran laut lepas.


Dalam catatan perjalanan keagamaan I-Tsing (671-695 M) dari Kanton ke Perguruan Nalanda di India Selatan disebutkan bahwa ia menggunakan kapal Sriwijaya, negeri yang ketika itu menguasai lalu lintas pelayaran di "Laut Selatan".



Pelaut Portugis yang menjelajahi samudera pada pertengahan abad ke-16 Diego de Couto dalam buku Da Asia, terbit tahun 1645 menyebutkan, orang Jawa lebih dulu berlayar sampai ke Tanjung Harapan, Afrika, dan Madagaskar.

Ia mendapati penduduk Tanjung Harapan awal abad ke-16 berkulit cokelat seperti orang Jawa. "Mereka mengaku keturunan Jawa," kata Couto, sebagaimana dikutip Anthony Reid dalam buku Sejarah Modern awal Asia Tenggara.


Berdasarkan relief kapal di Candi Borobudur membuktikan bahwa sejak dulu nenek moyang kita telah menguasai teknik pembuatan kapal. Kapal Borobudur telah memainkan peran utama dalam segala hal dalam bahasa Jawa pelayaran, selama ratusan ratus tahun sebelum abad ke-13.


Memasuki abad ke-8 awal, kapal Borobudur digeser oleh Jung besar Jawa, dengan tiga atau empat layar sebagai Jung. Kata "Jung" digunakan pertama kali dalam perjalanan biksu Odrico jurnal, Jonhan de Marignolli, dan Ibn Battuta berlayar ke Nusantara, awal abad ke-14.


Mereka memuji kehebatan kapal Jawa raksasa sebagai penguasa laut Asia Tenggara. Teknologi pembuatan Jung tak jauh berbeda dari konsep Borobudur, seluruh badan kapal dibangun tanpa menggunakan paku.


Disebutkan, Jung Nusantara memiliki empat tiang layar, terbuat dari papan berlapis empat serta mampu menahan tembakan meriam kapal-kapal Portugis.

Bobot jung rata-rata sekitar 600 ton, melebihi kapal perang Portugis. Jung terbesar dari Kerajaan Demak bobotnya mencapai 1.000 ton yang digunakan sebagai pengangkut pasukan Nusantara untuk menyerang armada Portugis di Malaka pada 1513. Bisa dikatakan, kapal Jung Nusantara ini disandingkan dengan kapal induk di era modern sekarang ini.
bersambung.....



Tuesday, 10 April 2012

0
Batara Kresna

SENI BUDAYA : JAWA BARAT


Batara Kresna 1
 Batara Kresna adalah Raja kerajaan Dwarawati dan merupakan titisan Dewa Wisnu, di tugaskan untuk menyelesaikan segala permasalahan di muka bumi. Kakaknya bernama Baladewa raja dari kerajaan Manduraharja. Batara Kresna mempunyai senjata gambar lopian yang dapat melihat keadaan di seluruh penjuru dunia. Dia juga mempunyai senjata Cakra, berupa panah yang dapat menghancurkan apa saja.
Batara Kresna mempunyai nama lain diantaranya : Padmanaba, Danardana, Harimurti dan Kesawasidi.

Batara Kresna 2





0
Batara Guru

SENI BUDAYA : JAWA BARAT

Batara Guru
Batara Guru adalah putra sanghyang tunggal, adik Semar Badranaya. Merajai 3 alam : alam Mayapada, alam Marcapada dan alam Madyapada.


Sunday, 11 March 2012

0
KARAKTER TOKOH WAYANG GOLEK (SASTRAJINGGA / CEPOT)

Seni Budaya : Jawa Barat
Karakter Tokoh Wayang Golek


Sastrajingga alias Cepot adalah anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Semar Badranaya dan Suntiragen (sebetulnya Cepot Lahir dari saung). 


Sastrajingga berarti, Sastra adalah tulisan dan Jingga adalah Merah. jadi Cepot/Sastra jingga gambaran sosok yang mempunyai watak buruk bagaikan seorang siswa yang mempunyai Report merah. Namun keistimewaanya dia sangat setia kepada majikanya. 

CEPOT




Watak


Humoris, suka banyol ngabodor, tak peduli sama siapapun baik kesatria, raja maupun para dewa (santai aja). lewat humor tetap memberi kritik dan nasehat.


Sastrajingga/Cepot biasanya dikeluarkan oleh dalang di tengah kisah. Slalu menemani para kesatria Madukara yang jadi majikanya. Cepot digunakan dalang untuk menyampaikan pesan - pesan bebas bagi penonton baik itu nasehat, kritik, maupun sindiran. dimana cara menyampaikanya melalui guyon (bodor/lawakan).




 sejata Cepot berupa Golok


sumber : 
http://amazonfile.blogspot.com
http://wayang.wordpress.com

0
KARAKTER TOKOH WAYANG GOLEK (ASWATAMA)

Seni Budaya : Jawa Barat
Karakter Tokoh Wayang Golek


Aswatama


ASWATAMA
Aswatama adalah putra Resi Dorna yang merupakan guru Pandawa dan Kurawa. Resi Dorna hanya memiliki satu putra, sehingga ia sangat disayang. Ibunya bernama Kripi adik dari Krepa yang berasal dari negara Hastina pura.

Aswatama memiliki nama lain diantaranya : Droniyana, Acaryanandana, Acaryaputra dan Aksara Dewanagari. Ia tinggal di negara Hatina Pura (Astina), mengenyam ilmu militer bersama para pangeran Kuru, yaitu Korawa dan Pandawa, kekuatanya hampir setara dengan Arjuna terutama dalam ilmu memanah. 

Aswatama berambut dan bertelapak kaki kuda karena ketika awal mengandung dirinya, Dewi Kripi sedang beralih rupa menjadi kuda Sembrani, dalam upaya menolong Resi Durna terbang menyebrangi lautan. Ia cerdik dan pandai mempergunakan berbagai macam senjata. Memiliki pusaka berupa panah bernama panah Cundamanik


sumber
http://wayang.wordpress.com 

Friday, 9 March 2012

0
KARAKTER TOKOH WAYANG GOLEK (ARJUNA)

Seni Budaya : Jawa Barat
Karakter Tokoh Wayang Golek


Arjuna


ARJUNA
Arjuna adalah putra Pandu yang ketiga dari ibu Dewi Kunti Nalibrata. Disebut juga panengah Pandawa, tinggal di Madukara, bagian dari kerajaan Amarta. Berparas tampan, banyak disukai wanita. Memiliki senjata pusaka keris Pancaroba, Ali-ali Ampal dan panah Pasopati. Arjuna sangat taat kepada gurunya, yaitu Resi Drona dari kerajaan Astina. Memilika putra salah satunya adalah Abimanyu.




sumber :

0
KARAKTER TOKOH WAYANG GOLEK (ANOMAN)


   Seni Budaya : Jawa Barat
Karakter Tokoh Wayang Golek

Anoman Perbancana Suta. 

Anoman
Kera berbulu putih sakti mandraguna, mempunyai kuku Pancanaka. Putra Hyang Pawana Guru (Batara Bayu) dan Dewi Anjani. Menjadi senapati (panglima tentara) di Kerajaan Kiskenda. Pada saat perang Alengka, Anoman membantu Batara Rama melawan Rahwana dan bala tentaranya. Anoman pula yang membinasakan Rahwana dengan menjepit tubuh Rahwana dengan dua gunung kembar Sonara-Sonari. Ia juga memiliki umur yang sangat panjang, karena ditugasi menyimpan sukma Rahwana di dalam cupunya. 

Anoman memiliki beberapa ajian : 

1. Aji Bayubajra (mengeluarkan angin puyuh sebesar-besarnya) 
2. Aji Mundri, 
3. Aji Kemayan
4. Aji Pameling
5. Aji Sepiangin (lompat tinggi bahkan terbang)
6. Aji Triwikrama (tubuh menjadi besar)
7. Bayu Rota (kekuatan atau kecepatan secepat angin)
8. Sirna Bobot (aji untuk meringankan tubuh saat terbang atau pun loncat)

Sejak kecil dibawa oleh Batara Bayu ke Panglawung untuk di didik ilmu pengetahuan dan perang yang dibantu oleh dewa-dewa lainya.




sumber :


Saturday, 1 January 2011

0
Jajangkungan (Egrang)

Seni Budaya  : Jawa Barat
           Jajangkungan

Jajangkungan adalah sebuah permainan atau lebih tepatnya suatu alat yang juga berpungsi sebagai alat permainan. Jajangkungnan atau lebih dikenal egrang terbuat dari bambu yang panjangnya kurang lebih 1 meter atau 1.5 meter di sesuaikan dengan tinggi pengguna. pada jaman penulis kecil jajangkungan di buat ketika musim penghujan tiba dimana jalana becek dan  kondisi jalan belum dikeraskan (tanah) sehingga jajangkungan ini sangat efektif agar kaki tidak kotor. biasanya penulis menngunakan Jajangkungan(egran) ketika mau pergi sekolah. Tapi belakangan Jajangkungan tidak begitu popular dikalangan anak - anak atau orang dewasa. bahkan mungkin tidak tahu. tapi penulis bersyukur masih ada yang masih melestarikan egran walau hanya pada saat perayaan tujuh belas agustus. semoga kita sebagai anak bangsa dapat melestarikan budaya negri sendiri. Kita bisa mencontoh Jepang misalnya yang begitu menghargai seni dan budaya negrinya. aminnn.
Friday, 24 December 2010

0
Ruwatan Bumi

Seni Budaya : Jawa Barat
     Ruwatan Bumi

Ruwatan bumi adalah salah satu upacara adat masyarakat agraris yang sampai saat ini masih dilaksanakan oleh masyarakat Subang, tepatnya di kampung Banceuy Wangunharja. Ruwatan berasal dari kata rawat atau merawa artinya mengumpulkan atau merawat yaitu mengumpulkan seluruh masyarakat kampung serta mengumpulkan semua hasil bumi, baik yang masih mentah maupun yang sudah diolah.
Upacara Ruwatan Bumi ini dilaksanakan sebagai ungkapan syukur terhadap Tuhan YME atas keberhasilan hasil panen pertanian dan sebagai tolak bala serta ungkapan penghormatan terhadap nenek moyang mereka yang telah berjasa meningkatkann taraf hidup di kampung Banceuy tersebut. Di kampung Banceuy ini acara Ruwatan Bumi telah dilaksanakan semenjak tahun 1800 masehi
.
Wednesday, 20 October 2010

0
Wayang Golek

Jawa Barat 
                                          
Wayang Golek adalah wayang tradisional Sunda dari Jawa Barat, Indonesia. Terbuat dari kayu albasiyah. Diukir dan dicat sangat detail dan mengenakan pakaian. Semua tangan dibuat.Dimainkan oleh satu orang, yang disebut Dalang.
Foto : thehindu.com












 
. | © 2010 by DheTemplate.com | Supported by Promotions And Coupons Shopping & WordPress Theme 2 Blog